0

TIPPING POINT – Fenomena Ketok Tular

AA GEDE AGUNG WEDHATAMA - Tipping Poin

Dalam dunia bisnis diperlukan sebuah metoda hebat untuk memperkenalkan bisnis kita kepada costumers sehingga mereka mau menerima produk kita dengan cepat dan tepat sasaran. Tipping point berbicara mengenai biografi sebuah gagasan, dimana gagasan yang dimaksud tersebut adalah gagasan kecil atau dengan kata lainnya sangat sederhana. Gagasan sederhana ini kemudian mampu menghasilkan hal yang berdampak besar baik bagi si pembuat gagasan, maupun bagi sekelilingnya. Di dalam buku ini Malcolm Gladwell mengemukakan bahwa gagasan kecil ini dapat memicu terjadinya penularan yang sangat cepat di kalangan masyarakat. Ibarat virus yang mampu ditularkan dengan cepat dan dalam seketika membentuk epidemi. Kemunculan tren mode yang tiba-tiba, menurunnya jumlah angka kejahatan, atau peningkatan perokok dari kalangan remaja yang terjadi di berbagai tempat di belahan dunia merupakan fenomena dari perubahan misterius yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari secara epidemik. Ide, produk, pesan, dan perilaku menyebar dan menulari masyarakat seperti yang virus lakukan, kemudian dalam waktu yang sangat singkat memberikan efek dramatis akan perubahan tertentu.

Apa yang mendasari terjadinya penularan gejala sosial ini sangat mirip dengan apa yang terjadi di dunia kesehatan. Sebut saja flu burung. Virus ini dalam waktu cepat tumbuh dan berkembang di Indonesia pada beberapa tahun yang lalu, menular dengan cepat sehingga menjadikan Indonesia sebagai wilayah endemi flu burung setelah Hongkong. Kemudian virus ini dengan cepat pun hilang dan sekarang tak pernah terdengar lagi. Prinsip penularan seperti yang dilakukan oleh virus ini juga terjadi di dalam kehidupan sosial, di mana sebuah gagasan dapat dengan cepat diterima dan diikuti di seluruh dunia seperti fenomena buku-buku best seller yang menjadi tren pemikiran dan gagasan. Selain itu produk-produk tertentu juga ada yang menyebar seperti virus dan kemudian “menginfeksi” banyak orang melebihi ekspektasi siapapun, membentuk tren yang diikuti banyak orang.

Gagasan yang dikemukakan di dalam buku ini secara garis besar ialah memaparkan bagaimana hal-hal kecil mampu membawa perubahan besar dan menjadi ‘penyakit’ menular di dalam masyarakat. Ada tiga hal yang menjadi kaidah-kaidah suatu fenomena itu dikatakan sebagai epidemik. Kaidah yang pertama ialah penularan. Kedua, adanya fakta yang membuktikan bahwa hal yang kecil dapat membawa efek yang besar. Ketiga, perubahan yang terjadi bukan secara bertahap. Akan tetapi terjadi dengan cepat dalam suatu saat yang sangat dramatis. Tipping point merupakan nama yang diberikan kepada suatu hal yang dapat mengubah segalanya secara sekaligus.

• Penularan

Yang dimaksud penularan ini ialah suatu gejala dimana gagasan, produk, ataupun perilaku mampu menjadi hal yang ditiru/dianut oleh banyak orang. Yang dilakukan oleh orang-orang ini kemudian menjadi hal yang ditiru oleh kelompok lainnya sehingga gagasan, produk, ataupun perilaku tersebut memberikan dampak pada semakin luasnya untuk orang menggunakan atau menganutnya.

• Fakta bahwa yang kecil mampu memberikan perubahan besar

Fenomena tren mode hush puppies yang dipakai oleh beberapa orang fashion forward (yang disebut sebagai superinfluential types) di Manhattan mampu mengantarkan sepatu itu menjadi sepatu yang dipakai di seluruh negeri dan dijual di seluruh mall di Amerika. Ada sebuah misteri mengapa segelintiran orang yang memakai hush puppies ini mampu memberikan dampak perubahan yang besar bagi tren mode di amerika. Beberapa orang yang mengerti tentang mode ini mampu mampu menularkan virus “hush puppies” ke seluruh negeri. Inilah sebuah contoh bagaimana yang kecil (segelintiran fashion forward) mampu memberikan dampak pada tren mode sepatu bagi seluruh daratan Amerika, bahkan kini juga mewabah di negara-negara lainnya. Hush Puppies, yang mestinya sekarat pada 1994, tiba-tiba berubah haluan karena ada segelintir orang amat berpengaruh memakai sepatu Hush Puppies. Hanya dalam tempo dua tahun, penjualannya naik 5 ribu persen tanpa sepeser pun mengeluarkan biaya iklan. Semua itu, menurut Gladwell, karena ada “segelintir superinfluential types” yang mempengaruhi orang lain untuk meniru mereka.

• Perubahan yang terjadi dengan dramatis

Epidemi merupakan sebuah keadaan dimana penyakit menular dengan begitu cepat melebihi ekspektasi. Begitu juga dalam prinsip tipping point. Sebuah hal kecil yang kita umpamakan sebagai virus (penyakit) ini mampu menjangkiti banyak orang sehingga memberikan dampak diluar perkiraan.

Gagasan mengenai pentingnya kelekatan dalam proses tipping memiliki implikasi besar bagi cara kita memandang epidemi sosial. Kita cenderung menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan bagaiman sebuah pesan dapat menjadi lebih menular dan dapat “menjangkiti” orang-orang dengan lebih cepat. Kelekatan merupakan hal yang menjadi pemikiran dari orang-orang yang menginginkan agar gagasannya tidak hanya berlalu begitu saja, akan tetapi mampu melekat dalam pikiran banyak orang, melekat, memberikan dampak besar, dan tidak mudah dihapuskan begitu saja. Ada cara khusus untuk membuat kelekatan ini melalui apa yang disebut Gladwell sebagai diffusion model.

Epidemi sosial tidak dengan mudah dapat diciptakan hanya melalui intuisi. Akan tetapi dibutuhkan sebuah pengamatan yang luas untuk melihat kemungkinan dari suatu gagasan agar dapat memebrikan dampak yang besar. Menciptakan sebuah epidemi membutuhkan perkiraan-perkiraan dan juga pemahaman khusus. Diffusion model merupakan cara yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang ingin menciptakan epidemi sosial. Diffusion model merupakan langkah akademis yang dilakukan untuk melihat semenular apakah gagasan yang kita miliki. Ini dibutuhkan untuk memberikan perkiraan-perkiraan agar produk atau gagasan kita mampu menjadi sebuah ‘tipping point’ baru di tengah populasi tertentu. Setidaknya ada lima hal yang menjadi perhatian untuk melihat seberapa menular ide atau produk kita.

Tahukah anda bahwa virus mampu menduplikasi dirinya secara deret ukur: 2, 4, 8, 16, 32, 64, dst…? Bukan deret hitung 1, 2, 3, 4, 5, 6, dst? Penyebaran virus semacam itulah yang dalam istilah kedokteran disebut epidemic, atau mewabahnya penyakit dalam komunitas atau daerah tertentu dalam jumlah yang melebihi batas jumlah normal atau yang biasa.

Dalam peraturan yang berlaku di Indonesia, pengertian wabah dapat dikatakan sama dengan epidemi, yaitu “berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi … keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka” (UU 4/1984).

Dalam kehidupan sosial, pola penyebaran virus semacam itu ternyata dapat pula terjadi di masyarakat dalam bentuk social epidemic. Pola penyebaran ”virus” itu dapat terjadi secara alamiah, tapi sebenarnya dapat pula dilakukan dengan rekayasa, asal kita mengetahui apa faktor-faktor pendukung percepatan penyebaran ”virus” tersebut. Buku Malcolm Gladwell, secara gamblang membedah fenomena social epidemic dalam buku best seller-nya, ”Tipping Point” (Back Bay Books, 2000).

Ada 3 ciri utama dalam epidemic, yaitu bersifat menular, membesar, dan radikal. Dari sana, Malcolm Gladwell kemudian mengupas adanya 3 faktor utama:

(1) The law of the few, (2) The stickiness, (3) The Power of context.

Gladwell membedah ketiganya dalam gaya bertutur yang enak dan mengalir. Teori psikologi sosial, marketing, atau manajemen, dibahas dengan cara yang ringan. Didukung dengan kajian kasus secara ilustratif, membuat buku ini enak dibaca.

Melalui The law of the few, Gladwell ingin menunjukkan bahwa penyebaran “virus” membutuhkan peran orang-orang terpilih, yang jumlah sangatlah sedikit. Mereka itu adalah Connector, Maven, dan Salesman. Connector adalah penghubung yang handal, berfungsi sebagai social glue dan spread message. Maven adalah sesorang yang memiliki informasi, berfungsi sebagai data bank dan provide message. Sedangkan Salesman adalah seorang penjual informasi yang ulung, berfungsi sebagai persuader. Dalam buku ini dicontohkan betapa heroiknya Paul Revere – sebagai connector – dalam mengobarkan perang melawan Inggris dengan menunggang kuda di malam hari, menggedor pintu-pintu rumah penduduk. Atau Mark Alpert – sebagai maven – yang berperan menyediakan informasi akuran soal harga-harga dipasaran. Dan Tom Gau – sebagai salesman.

Faktor kedua adalah The stickiness, atau terjemahan bebasnya adalah faktor kelekatan. Artinya sebuah pesan atau gagasan yang berhasil menembus pikiran, kesadaran, dan tersimpan di memori kepala, hingga merasuk ke hati. Proses pelekatan itu biasanya dilakukan dengan paparan yang berulang-ulang atau terus menerus. Contoh sehari-hari adalah tayangan iklan di TV. Di sini dicontohkan perbedaan mendasar pada kasus program TV Sesame Street dan Blues Clues.

Faktor ketiga adalah The Power of Context. Konteks dalam pengertian ini adalah situasi atau kondisi yang melingkupinya. Konteks di sini bisa berarti waktu yang tepat atau tempat yang mendukung. Dalam buku ini dibahas tentang menurunnya angka kejahatan karena adanya faktor pemicu yang pas. Atau meningkatnya kasus bunuh diri di Micronesia karena adanya pemicu dari peristiwa sebelumnya.

1. Innovators, merupakan orang yang mampu melihat gejala baru di dalam masyarakat. Memiliki karakter visoner. Mereka adalah orang-orang yang mampu melihat bagaimana sebuah inovasi akan mampu dengan segera diterima dan diadopsi oleh early adopter (pihak pertama yang mengadopsi sebuah produk baru atau gagasan baru). Connector, mavens, dan salesmen merupakan orang-orag yang mampu melihat bagaimana sebuah ide, produk, ataupun perilaku ini dapat segera diterima. Sementara translator, menerjemahkan sebuah gagasan, produk, atau perilaku ini dengan bahasa yang dapat dimengerti dengan dan diterima. Connector, maven, salesmen, dan juga translator merupakan pihak yang disebut sebagai innovators.

2. Early Adopter, merupakan kelompok populasi tertentu yang disasar oleh innovator. Mereka dengan cepat akan menerima inovasi dari inovator.

3. Early Majority, merupakan kelompok yang skeptis terhadap sesuatu. Mereka tidak akan mencoba hal baru sebelum salah seorang yang dihormati di dalam kelompok tersebut mencobanya.

4. Late Majority, merupakan kelompok yang terlambat menerima sebuah ide baru

5. Laggards, kelompok yang paling tradisional dan hampir tidak ada harapan untuk menerima sebuah perubahan.

Apa yang dimaksudkan dengan tren oleh Malcolm Gladwell sebenarnya merujuk pada beberapa penjelasan di sebelumnya mengenai epidemi. Menurut Gladwell, sebuah fenomena epidemi sosial itu dikatakan tren jika dipicu oleh segelintiran orang yang berpengaruh atau yang disebut sebagai superinfluential types. Superinfluential types ini kemudian mampu menularkan apa yang mereka lakukan kepada orang lain dan dengan cepat mewabah menjadi hal yang diterima dan ditiru oleh banyak kelompok orang sehingga menjadi tren.

Tren Sebagai Budaya Populer

1. Tren Blackberry

Salah satu contoh mengenai tren ialah penggunaan ponsel cerdas Blackberry. Blackberry sebenarnya sudah ada sejak tahun 1997, namun baru diperkenalkan di pasaran Indonesia pada tahun 2004. Kemunculan Blackberry sebagai pemain di pasaran ponsel tanah pada awal kemunculannya memang merupakan sebuah kemunculan yang tidak pernah diperkirakan mampu menyaingi pemain lama seperti Nokia dan Sony Ericsson yang telah bertahun-tahun bergerak pada produksi ponsel.

Apa gagasan utama yang ada pada ponsel cerdas blacberry yang menjadikannya sebagai ‘virus’ yang kemudian berhasil menjangkiti banyak orang di Indonesia. Bahkan membuat pasar Nokia menjadi terguncang dan menurunkan tingkat penjualannya di tanah air. Fasilitas push email, Blacberry Messenger dan, integrasi dengan jejaring sosial merupakan gagasan yang dapat dengan cepat di adopsi dalam setiap ponsel Blacberry. Ternyata penggunaan teknologi ini belum mampu dijangkau oleh pesaingnya di tanah air (Nokia dan Sony Ericsson). Ketiga fasilitas utama yang dimiliki oleh Blacberry (BB) ini mampu menjadikannya sebagai ponsel yang paling banyak dicari pada kurun waktu 4 tahun terakhir.

Dari pengamatan saya, semenjak kemunculan Blacberry ini orang-orang menjadi sangat ingin mencicipi teknologi canggih yang ditawarkan. Bahkan banyak teman-teman di sekitar saya, meskipun mereka belum mempunyai BB, namun sudah sangat familiar dengan istilah seperti PIN, BBM, Ping dan beberapa istilah lain yang dimiliki oleh ponsel keluaran RIM (Research In Motion) ini. Ini merupakan sebuah kemenangan mutlak melalui istilah atau sebutan yang digunakan RIM pada teknologi produk yang dimilikinya. Voila, seperti gagasan yang dikemukakan oleh Gladwell dalam Tipping Point bahwa sebuah tren itu harus memiliki kemampuan untuk membentuk sebuah epidemi, maka di Indonesia virus BB ini telah mampu menjangkiti banyak kalangan untuk tertular “virus” ponsel yang memiliki ciri khas keyboard Qwerty ini. Epidemi BB pun ada di mana-mana. Bahkan saking kuatnya pengaruh penularan virus ini, muncul pula “virus-virus” varian terbaru kloningan BB dari pabrikan lokal seperti China yang memanfaatkan momen ini memasarkan produk mereka yang meniru ciri khas Qwerty pada BB. Serupa, tapi tak sama. Produk lokal ini kalah meskipun harganya sangat murah.

Promosi yang digunakan oleh RIM untuk membuat Blacberry ini dapat dengan cepat diterima juga patut diacungi jempol. Mereka seperti sudah memahami betul bagaimana membentuk epidemi sosial yang dimulai oleh superinfluential type, dalam hal ini ialah para artis. Cara ini ternyata sangat efektif untuk menjadi pemicu lahirnya wabah BB yang jauh lebih ganas dan kemudian melambungkan BB sebagai ponsel yang merajai Indonesia sehingga CNN pun memberikan julukan, King in Indonesia.

Prinsip epidemi yang dikemukakan oleh Gladwell agaknya berjalan dengan sangat baik pada kasus Blackberry di Indonesia. Prinsip pertama mengenai penularan telah dijelaskan di atas, begitupun dengan prinsip kedua yang menyatakan bahwa hal yang kecil juga mampu memberikan dampak dampak besar. Ini dicontohkan dari segelintiran orang (artis) yang memakai Blackberry dan kemudian berpengaruh besar pada keinginan masyarakat memiliki Blackberry. Prinsip yang ketiga ialah mengenai perubahan yang terjadi secara dramatis. Begitu antusiasnya pengguna ponsel di Indonesia untuk memiliki Blackberry telah berdampak pada banyaknya jumlah ponsel Blackberry yang kini beredar di Indonesia. Diperkirakan pada 2012 nanti, jumlah BB yang beredar mencapai jumlah 4 juta unit Blackberry di Indonesia. Sebuah angka yang fantastis mengingat BB bukan pemain pertama pada pasar ponsel tanah air.

Penyakit Blackberry agaknya mencengangkan, terbukti preorder untuk tipe Torch yang terbaru sudah mencapai 20 ribu orang. Padahal, seri tersebut cukup mahal, hampir enam juta rupiah per unitnya. Blackberry kemudian menjadi simbol pergaulan. Penanda bahwa penggunanya merupakan orang yang smart, update dengan situasi perkembangan terkini serta juga dikatakan sebagai orang yang gaul. Seluruh wilayah di Indonesia dengan cepat ditulari oleh virus Blackberry. Ide menjadikan ponsel sebagai perangkat dengan kecanggihan layaknya komputer ternyata merupakan gagasan brilian dari RIM. Penggunaan keyboard Qwerty menjadi ciri khas dan faktor kelekatan tersendiri bagi konsumen. Ingat Blackberry pasti akan teringat pada ponsel yang memiliki keyboard Qwerty di bawah layarnya. Meskipun Nokia dan perusahanan-perusahaan ponsel lokal lainnya mengeluarkan produk yang bisa dikatakan meniru kesuksesan qwerty BB menjual produk-produknya dengan banderol harga yang lebih murah dibandingkan Blackberry, tetap saja produk BB dicari meskipun harganya relatif lebih mahal.

Tren Blackberry Messenger juga memberikan dampak yang tidak kalah hebatnya. Fasilitan chat dengan menggunakan pin ini menjadi begitu fenomenal dikarenakan penggunaannya yang sangat efektif untk mengirim pesan teks, gambar, suara, bahkan dokumen ke pengguna Blacberry lainnya dengan tanpa mengeluarkan biaya apapun. Tren positif dari BBM ini kemudian juga membuat developer-developer dan juga perusahaan ponsel berlomba-lomba mengeluarkan produk messenger sejenis yang menggunakan Pin dan memiliki kemiripan fitur dengan BBM. Akan tetapi, entah seperti apa sebenarnya perancangan produk yang dilakukan oleh RIM, tetap saja produk-produk messenger selain BBM tidak tumbuh se-fenomenal BBM. Bahkan, dalam banyak kasus hal utama yang membuat orang meninggalkan ponsel lamanya ialah karena ingin menggunakan BBM.

Meskipun dalam kurun waktu setahun terakhir Blackberry mendapat persaingan yang sangat kuat dari Google Android, namun tren Blackberry masih saja sangat kuat. Karena image Blackberry sebagai ponsel yang identik dengan pergaulan orang-orang smart cenderung sudah begitu kuat melekat sehingga Blackberry tetap menjadi incaran banyak orang khususnya anak muda.

2. Hijabers Community

Jilbab modis kini menjadi pemandangan di seantero negeri. Bukan hanya di Televisi, namun juga di stasiun kereta, pasar-pasar, angkutan umum, kampus, hampir setiap tempat umum kini pemandangan wanita-wanita yang berjilbab dengan mode fashion terbaru ini. Dari sisi fashion style-nya, mereka sangat kreatif dalam menciptakan style-style baru yang out-of-the-box, lain dari biasanya. Beberapa style adaptasi perpaduan dari style fashion muslimah dari timur-tengah. Mereka berhasil menciptakan tren Fashion style ala hijabers yang uniquely modern dan stylish, mendobrak pakem dan membuktikan bahwa berbusana muslim justru akan menambah cantik dan anggun penampilan seorang muslimah. Tak salah jika style berbusana ala Hijabers saat ini banyak dijadikan inspirasi gaya busana muslimah indonesia.

The power of the few benar-benar dapat terlihat pada terbentuknya tren mode ini. Jika dilihat lebih jauh, dikenalnya secara luas model-model jilbab yang trendi ini terjadi setelah beberapa orang berkumpul menciptakan ide mengenai mode busana muslim terbaru melalui komunitas yang diberi nama Hijabers Community. Komunitas inilah yang kemudian berkreasi menciptakan berbagai cara pemakaian jilbab agar tetap fashionable dan menjadikan busana muslim tidak ketinggalan zaman. Ternyata usaha dari Dian Pelangi dan beberapa wanita lain di dalam Hijabers Community ini memiliki tingkat ‘penularan’ yang juga sangat tinggi. Terbukti, hanya dalam waktu singkat, pashmina, jilbab La Mer, dan jenis-jenis model lainnya yang terlahir melalui kreasi Hijabers Community ini diadopsi dengan cepat oleh wanita-wanita yang ingin tampil syar’i namun tetap stylish.

Penularan ini bukan hanya terjadi pada digunakannya secara luas mode fashion ini, namun juga pada peningkatan penjualan model-model jilbab ini pada toko-toko pakaian baik yang sederhana maupun di mall-mall. Jilbab modis ini kemudian menjadi epidemi di Indonesia. Mulai dari anak-anak kecil sampai orang dewasa tertular ‘virus’ ini, menjadikan pemandangan jilbab trendi ini makanan sehari-hari. Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, komunitas ini kemudian terbentuk pula di diberbagai kota lain di Indonesia. Dengan semangat mengajak wanita-wanita muslimah untuk tampil syar’i namun tetap tidak meninggalkan unsur estetika berbusana itu sendiri, kemudian epidemi ini bertambah luas, menghasilkan dampak yang begitu besar pada dunia mode tanah air. Berbagai pelatihan pemakaian jilbab diadakan di banyak tempat, begitu juga dengan pagelaran busana muslimah.

Ide mengenai tampil syar’i namun tetap modis merupakan ide sederhana yang mendasari bagaimana jilbab ala Hijabers ini mampu diterima luas. Selama ini penggunaan jilbab mungkin sering dirasakan akan menjadi sebagai penghambat bagi wanita untuk tampil up to date dan cantik mengikuti perkembangan dunia fashion. Ide mengenai syar’i namun trendi inilah yang awalnya susah diwujudkan oleh wanita-wanita yang menggunakan hijab. Seperti kata pepatah, Bak dicinta ulam pun tiba, penantian wanita muslimah yang ingin berhijab dengan trendi ini pun menjadi pemicu dengan cepatnya ‘virus’ ini mampu membentuk epidemi hijabers. Early adopter untuk ide yang satu ini lumayan besar jumlahnya, meliputi anak-anak muda muslimah yang ingin berhijab tanpa terkesan ketinggalan zaman.

Cepatnya penyebaran trend pakaian muslimah terbaru ini sebenarnya dipengaruhi juga dengan keeksisan para pionir di dalam mode ini. Sebutlah Dian Pelangi, sang inovator dalam mode hijab terbaru ini menuliskan mem-post banyak hal berkaitan dengan model-model jilbab di blognya, http://dianrainbow.blogspot.com/, dan yang perlu juga kita garis bawahi bahwa ada sekitar 30-an wanita muslimah yang pada awalnya memulai komunitas yang sekarang kita kenal dengan Hijabers Community, dan ternyata sebagian besar dari mereka memang rajin memiliki blog yang digunakan untuk menyebarluaskan gagasan mengenai syar’i dan stylish. Adalagi http://kivitz.blogspot.com/, blog miliknya Fitri Aulia, salah seorang yang juga memprakarsai meluasnya ‘virus’ HC (Hijabers Community) ini ke masyarakat luas. Selain mereka berdua, masih banyak lagi Hijabers-hijabers lainnya yang dengan rutin meng-update blog mereka mengenai fashion terbaru ini.

Ternyata, kemampuan para Hijabers dalam melihat adopter fashion terbaru ini cukup mengagumkan. Karena saat ini kebanyakan pengenalan mode ternyata dilakukan melalui website-website dan blog-blog desainernya. Melalui tutorial dan juga foto-foto yang di post di blognya, adopter mode ini yang sejumlah besarnya berasal dari kalangan remaja dapat melihat bagaimana merias diri dan jilbabnya. Selain itu juga bagaimana memadukan antara hijab dan fashion lainnya. Efeknya, lihatlah sekarang bagaimana gelombang Hijabers ini menggegerkan dunia fahion tanah air. Berbagai tutorial dan seminar juga dilakukan di banyak tempat dengan mengundang pemrakarsa mode ini. Superinfluential type inilah yang kemudian menjadi penular utama bagi diterimanya gagasan mereka mengenai fashion ini bagi masyarakat luas khususnya kalangan muslimah muda.

Twitter di Indonesia menujukkan gejala-gejala tren yang aneh di mata saya. Ketika Indonesia dan Jakarta menjadi trending topic pada saat terjadi ledakan bom di JW Marriot dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan Jakarta, saya masih mahfum. Demikian pula ketika #IndonesiaUnite yang merespon bom tersebut memuncaki trending topics Twitter, masih masuk akal. Bahkan tatkala mbah Surip meninggal dan masuk 10 besar trending topics, saya merasa biasa saja. Namun manakala kata-kata yang aneh-aneh bermunculan menjadi trending topics, saya mulai bertanya-tanya: apa yang sesungguhnya memicu sebuah tren di Twitter?

Sebagai contoh, hari ini #alesanputus hanya dalam beberapa jam masuk ke 10 besar trending topics. Padahal kata itu hanya mengacu pada apa alasan kita putus dengan sang pacar. Sebelumnya, #jamanSD, juga #filmbikinmewek tiba-tiba menjadi tren di Twitter. Entah energi apa yang mendorong kata-kata “kurang jelas” itu menjadi gerakan masal di Twitter.

Salah satu penjelasan terjadinya sebuah trend dikupas secara menarik, penuh dengan ujicoba, dengan analisa cerdas, oleh Malcolm Gladwell. Dalam buku larisnya yang berjudul The Tipping Point, Gladwell menjelaskan bahwa trend akan terjadi jika dipicu oleh sedikit orang yang amat berpengaruh. Hush Puppies, yang mestinya sekarat pada 1994, tiba-tiba berubah haluan karena ada segelintir orang amat berpengaruh memakai sepatu Hush Puppies. Hanya dalam tempo dua tahun, penjualannya naik 5 ribu persen tanpa sepeser pun mengeluarkan biaya iklan. Semua itu, menurut Gladwell, karena ada “segelintir superinfluential types” yang mempengaruhi orang lain untuk meniru mereka.

Di dunia marketing, fenomena itu disebut sebagai viral marketing atau word of mouth marketing. Konsepnya: dekati segelintir orang-orang yang amat berpengaruh untuk memakai produk kita, maka orang-orang yang mengagumi mereka akan tertarik untuk membeli produk yang sama, tanpa harus melihat iklan. Paham ini dianut oleh Ed Keller dan Jon Berry yang menulis buku The Infuentials. “E-fluentials bisa membuat atau bahkan merusak sebuah brand,” kata mereka. Tidak heran jika MarketingVOX melaporkan, setiap tahunnya lebih dari US$ 1 miliar dibelanjakan untuk kampanye WOM yang menyasar para Influentials ini, dengan pertumbuhan 36% per tahun, jauh di atas taktik marketing dan advertising lain.

Gladwell maupun Ed Keller dan Jon Berry punya pendapat yang sama: tren akan terjadi jika dipicu oleh (segelintir) orang berpengaruh. Tanpa itu, tidak akan terjadi tren.

Namun, dalam pengamatan saya, tren di Twitter terjadi begitu saja tanpa dipicu oleh orang berpengaruh. Gerakan #IndonesiaUnite tidak dipicu oleh seleb atau orang hebat. Demikian pula #alesanputus, #filmbikinmewek, dan #jamanSD bergerak cepat, menviral hanya dalam hitungan jam, menjadi tren di Twitter, tanpa picuan dari orang top, seleb, atau orang berpengaruh.

Lalu kenapa bisa terjadi? Jika mengandalkan paham Gladwell maupun Ed Keller dan Jon Berry, maka pertanyaan itu tidak akan terjawab. Untunglah, sebuah penelitian bisa membantah paham “Orang Berpengaruh” tersebut. Duncan Watts, saintis teori jejaring lulusan Columbia University yang kini bekerja di Yahoo! membuat model komputer bagaimana sebuah rumor bisa menyebar luas dalam tempo singkat.

Hasilnya? Mengejutkan! Sebuah tren bisa terjadi tanpa harus dipicu oleh segelintir orang amat berpengaruh. Tren bisa meledak, tidak tergantung pada siapa yang memulai, tetapi tergantung pada kesiapan seluruh masyarakat untuk menyambutnya. Tren tidak tergantung pada seberapa berpengaruhnya kelompok early adopter, tetapi justru pada seberapa mudah pihak lain, yang mayoritas itu, terbujuk. “Jika masyarakat sudah siap untuk sebuah tren, siapapun bisa memicunya. Itu artinya semua orang bisa memicu tren, tidak harus orang berpengaruh,” katanya.

Bagi Watts, pengibaratan viral dengan penyebaran virus adalah salah kaprah. Viral lebih cocok diibaratkan sebagai kebakaran hutan. Selama jutaan tahun berkali-kali terjadi kebakaran hutan di seluruh penjuru dunia. Namun hanya beberapa yang menjadi kebakaran hebat. Ini bisa terjadi karena situasi yang amat jarang ditemui: kekurangan hujan, pepohonan yang mengering dan ketidaksiapan pemadam kebakaran. Jika tiga hal tersebut berkombinasi, tidak perlu orang berpengaruh untuk memicu kebakaran. Orang gila yang sembarang membuang puntung rokok pun bisa memicu kebakaran hebat.

Teori Watts ini cocok untuk menjelaskan trending topics di Twitter untuk hal-hal yang kelihatannya remeh-temeh seperti #alesanputus, #filmbikinmewek, dan #jamanSD. Sangat mungkin dalam diri banyak pengguna Twitter di Indonesia memang ingin cerita dan berbagi soal alasan putus mereka dengan pacar, film apa saja yang membuat mereka berurai air mata, serta kenangan manis di saat masih di Sekolah Dasar. Twitter, dengan kapasitas 140 karakternya dan sifat penyebarannya, menjadi medium yang tepat. Jadi, siapapun yang memulai tren itu tidak relevan. Bisa siapa saja. Tidak perlu beberapa seleb yang ceriwis di Twitter untuk memicu tren. Anda pun bisa memicu tren di Twitter, JIKA masyarakat Twitter siap menerima tren itu.

===========================================

Menelusuri buku Malcolm Gladwell, salah satu pengarang yang sangat komunikatif dalam menyampaikan pikirannya dengan lugas. Dalam buku pertama Malcolm Gladwell adalah Tipping Point, How Little Things Can Make a Big Different (Edisi Indonesianya: Tipping Point, Bagaimana Hal – Hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar). Malcolm Gladwell adalah penulis kelahiran Inggris tahun 1963, masih muda sekali, sejak memulai menulis sebagai reporter di The Washington Post dan sejak 1996 menjadi penulis di majalah The New Yorker. Latar belakang pendidikannya di bidang sejarah dan pengalamannya di dunia jurnalistik membuat tulisannya dipenuhi dengan data – data yang mengagumkan.

“Bagaimana Hal – Hal Kecil Berhasil Membuat Perubahan Besar”

SANGAT MENGGENTARKAN SEKALI, KETIKA MEMBACA JUDUL BUKU INI, KITA BISA MENDUGA ISINYA, NAMUN NYATANYA TIDAKLAH DEMIKIAN, MAKNA DARI TULISAN-TULISANNYA SANGAT DALAM. BAHWASANYA RIAK-RIAK KECIL YANG ADA DITENGAH DANAU YANG TENANG AKHIRNYA SAMPAI JUGA DI TEPI PANTAI, DAN MEMBASAHI TEPI DANAU ITU, SEHINGGA MEMBAWA PERUBAHAN YANG NYATA. JANGAN ANGGAP SEPELE KEPADA HAL-HAL KECIL KARENA DAPAT BERDAMPAK SANGAT BESAR ….! DEMIKIAN SAYA MELUKISKANNYA.

Gladwell menuliskan sesuatu yang menakjubkan di awal buku ini sebagai contoh. Perusahaan Wolverine sudah berencana untuk menghentikan produksi sepatu Hush Puppies karena semakin menurun daya jualnya. Namun tiba – tiba saja Wolverine dibanjiri pesanan sepatu Hush Puppies itu. Penjualan sepatu itu membumbung hingga Wolverine mengurungkan niatnya untuk menutup perusahaan. Pertanyaannya, apa yang membuat perubahan besar ini? Dari yang awalnya sangat tidak populer menjadi sangat populer hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun? Ternyata, perubahan ini dipicu oleh hal yang kecil. Beberapa anak muda yang ingin tampil beda, menggunakan sepatu Hush Puppies itu. Tanpa mereka sadari, ini mempengaruhi pemuda lain untuk menggunakannya hingga semua anak muda menjadi begitu terobsesi dengan sepatu yang hampir punah itu.

Gladwell menyebutnya dengan Tipping Point. Apa itu Tipping Point? Ungkapan ini pertama dikenalkan pada tahun 1970an. Pada saat itu, banyak terjadi perpindahan warga kulit putih karena semakin bertambahnya warga kulit hitam di daerah mereka. Saat pendatang kulit hitam mencapai angka tertentu di suatu wilayah, warga kulit putih langsung berpindah dari daerah itu. Bertambahnya warga kulit hitam yang menyebabkan warga kulit hitam berpindah itu, saat itu disebut sebagai Tipping Point.

Kasus serupa Hush Puppies ini ternyata berulang dan terus terjadi di bidang lain. Dan menurut Gladwell, perubahan yang ekstrem semacam ini seringkali dipicu oleh hal – hal yang kecil. Akan tetapi, tidak semua hal kecil bisa merubah keadaan yang sudah mapan. Ada tiga syarat menurut Gladwell, yang harus terpenuhi agar hal kecil bisa melakukan perubahan yang besar.

Tipping point merupakan nama yang diberikan kepada suatu hal yang dapat mengubah segalanya secara sekaligus.

Apa yang dimaksudkan dengan tren oleh Malcolm Gladwell sebenarnya merujuk pada beberapa penjelasan di sebelumnya mengenai epidemi. Menurut Gladwell, sebuah fenomena epidemi sosial itu dikatakan tren jika dipicu oleh segelintiran orang yang berpengaruh atau yang disebut sebagai superinfluential types. Superinfluential types ini kemudian mampu menularkan apa yang mereka lakukan kepada orang lain dan dengan cepat mewabah menjadi hal yang diterima dan ditiru oleh banyak kelompok orang sehingga menjadi tren.

…………….

The Tipping Point
Source : internet. Edited By, AA Gede Agung Wedhatama P.

admin

You are not authorized to see this part
Please, insert a valid App IDotherwise your plugin won't work.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *