0

HONDA – Great History

http://4.bp.blogspot.com/_W4Ow5GN0sEc/Sb3xPpXy71I/AAAAAAAAADE/wMuq_JYOUlA/s400/SoichiroHondaMedium.jpg
Honda,  Merek kendaran ini memang selalu menyesaki padatnya lalu
lintas. Karena itu barangkali memang layak disebut sebagai raja
jalanan.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis Honda “Soichiro
Honda
”  selalu diliputi kegagalan saat menjalani  kehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia itu. Dia bahkan tidak pernah bisa menyandang gelar insinyur.
Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah
di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat
jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus
bermimpi dan bermimpi. Dan, impian itu akhirnya terjelma dengan bekal
ketekunan dan kerja keras. ”Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak
bersedih, karena dunia saya di
sekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur Soichiro, yang meninggal pada usia
84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo , akibat mengidap lever.

Kecintaannya kepada mesin, jelas diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel
reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di
kawasan inilah dia lahir. Kala sering bermain di bengkel, ayahnya selalu
memberi catut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di
tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor
penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906 ini dapat berdiam
diri berjam-jam. Tak
seperti kawan sebayanya kala itu yang lebih banyak menghabiskan waktu
bermain penuh suka cita. Dia memang menunjukan keunikan sejak awal.
Seperti misalnya kegiatan nekad yang dipilihnya pada usia 8 tahun, dengan
bersepeda sejauh 10 mil. Itu dilakukan hanya karena ingin menyaksikan
pesawat terbang.

Bersepada memang menjadi salah satu hobinya kala kanak-kanak.
Dan buahnya, ketika 12 tahun, Soichiro Honda berhasil menciptakan sebuah
sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampai saat itu, di benaknya belum
muncul impian menjadi usahawan otomotif. Karena dia sadar berasal dari
keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya
selalu rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke kota , untuk bekerja di Hart Shokai
Company. Bossnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda
teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap
oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja di situ,
menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka
Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu . Tawaran ini
tidak
ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya kian membaik. Ia selalu menerima reparasi
yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil
pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya tak jarang
hingga larut malam, dan terkadang sampai subuh. Yang menarik, walau terus
kerja lembur otak jeniusnya tetap kreatif.

Kejeniusannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat
dari kayu, hingga tidak baik untuk kepentingan meredam goncangan. Menyadari
ini, Soichiro punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam.
Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh
dunia.

Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah
menciptakan ruji. Lalu Honda pun ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat
usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu dia berpikir, spesialis apa yang
dipilih ? Otaknya tertuju kepada pembuatan ring piston, yang dihasilkan oleh
bengkelnya sendiri pada 1938. Lalu, ditawarkannya karya itu ke sejumlah
pabrikan otomotif.

Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi
standar. Ring Piston buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat
reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan menyesalkan dirinya keluar
dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat kegagalan itu, Honda jatuh sakit
cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali
memimpin bengkelnya. Tapi, soal ring pinston itu, belum juga ada solusinya.
Demi mencari
jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.

Siang hari, setelah pulang kuliah, dia langsung ke bengkel mempraktekkan
pengetahuan yang baru diperoleh. Tetapi, setelah dua tahun menjadi
mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. ”Saya
merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali
penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya, ” ujar
Honda, yang diusia mudanya gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia
jelaskan kuliahnya bukan
mencari ijazah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap
penghinaan. Tapi dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir
segalanya. Berkat
kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima pihak Toyota yang langsung
memberikan kontrak. Ini membawa Honda berniat mendirikan pabrik. Impiannya
untuk mendirikan pabrik mesinpun serasa kian dekat di pelupuk mata.

Tetapi malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak
memberikan dana kepada masyarakat. Bukan Honda kalau menghadapi kegagalan
lalu menyerah pasrah. Dia lalu nekad mengumpulkan modal dari sekelompok
orang untuk mendirikan pabrik.
Namun lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar,
bahkan hingga dua kali kejadian itu menimpanya.

Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan karyawannya.
Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal
Amerika Serikat, untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik.
Penderitaan sepertinya belum akan selesai. Tanpa diduga, gempa bumi meletus
enghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik ring pinstonnya
ke Toyota . Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya
gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan bensin. Di sini
kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat
menjual mobilnya akibat krisis moneter itu. Padahal dia ingin menjual mobil
itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.

Dalam keadaan terdesak, ia lalu kembali bermain-main dengan sepeda
pancalnya. Karena memang nafasnya selalu berbau rekayasa mesin, dia pun
memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka, sepeda motor– cikal
bakal lahirnya mobil Honda — itu diminati oleh para tetangga. Jadilah dia
memproduksi sepeda bermotor itu. Para tetangga dan kerabatnya
berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Lalu Honda
kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari
tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi raja jalanan dunia,
termasuk Indonesia.

Semasa hidup Honda selalu menyatakan, jangan dulu melihat keberhasilanya
dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang
dialaminya.

”ORANG MELIHAT KESUKSESAN SAYA HANYA SATU PERSEN.

TAPI, MEREKA TIDAK MELIHAT 99 PERSEN KEGAGALAN SAYA,” tuturnya. Ia
memberikan petuah, ”KETIKA ANDA MENGALAMI KEGAGALAN, MAKA SEGERALAH MULAI KEMBALI BERMIMPI.  DAN MIMPIKANLAH MIMPI BARU.”

Jelas kisah Honda ini merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih
seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal
dari keluarga miskin.

Resources : Millis Tetangga – Lupa Linknya :D

Dapet dari milis…semoga bermanfaat………..

Amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu
terbentur pada kendaraan bermerek Honda, baik berupa mobil
maupun motor. Merek kendaran ini memang selalu menyesaki padatnya lalu
lintas. Karena itu barangkali memang layak disebut sebagai raja
jalanan.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis Honda — Soichiro
Honda — selalu diliputi kegagalan saat menjalani
kehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia
itu. Dia bahkan tidak pernah bisa menyandang gelar insinyur.
Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah
di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.

Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat
jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus
bermimpi dan bermimpi. Dan, impian itu akhirnya terjelma dengan bekal
ketekunan dan kerja keras. ”Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak
bersedih, karena dunia saya di
sekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur Soichiro, yang meninggal pada usia
84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo , akibat mengidap lever.

Kecintaannya kepada mesin, jelas diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel
reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di
kawasan inilah dia lahir. Kala sering bermain di bengkel, ayahnya selalu
memberi catut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di
tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor
penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906 ini dapat berdiam
diri berjam-jam. Tak
seperti kawan sebayanya kala itu yang lebih banyak menghabiskan waktu
bermain penuh suka cita. Dia memang menunjukan keunikan sejak awal.
Seperti misalnya kegiatan nekad yang dipilihnya pada usia 8 tahun, dengan
bersepeda sejauh 10 mil. Itu dilakukan hanya karena ingin menyaksikan
pesawat terbang.

Bersepada memang menjadi salah satu hobinya kala kanak-kanak.
Dan buahnya, ketika 12 tahun, Soichiro Honda berhasil menciptakan sebuah
sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampai saat itu, di benaknya belum
muncul impian menjadi usahawan otomotif. Karena dia sadar berasal dari
keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya
selalu rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke kota , untuk bekerja di Hart Shokai
Company. Bossnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda
teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap
oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja di situ,
menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka
Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu . Tawaran ini
tidak
ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya kian membaik. Ia selalu menerima reparasi
yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil
pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya tak jarang
hingga larut malam, dan terkadang sampai subuh. Yang menarik, walau terus
kerja lembur otak jeniusnya tetap kreatif.

Kejeniusannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat
dari kayu, hingga tidak baik untuk kepentingan meredam goncangan. Menyadari
ini, Soichiro punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam.
Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh
dunia.

Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah
menciptakan ruji. Lalu Honda pun ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat
usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu dia berpikir, spesialis apa yang
dipilih ? Otaknya tertuju kepada pembuatan ring piston, yang dihasilkan oleh
bengkelnya sendiri pada 1938. Lalu, ditawarkannya karya itu ke sejumlah
pabrikan otomotif.

Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi
standar. Ring Piston buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat
reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan menyesalkan dirinya keluar
dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat kegagalan itu, Honda jatuh sakit
cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali
memimpin bengkelnya. Tapi, soal ring pinston itu, belum juga ada solusinya.
Demi mencari
jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.

Siang hari, setelah pulang kuliah, dia langsung ke bengkel mempraktekkan
pengetahuan yang baru diperoleh. Tetapi, setelah dua tahun menjadi
mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. ”Saya
merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali
penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya, ” ujar
Honda, yang diusia mudanya gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia
jelaskan kuliahnya bukan
mencari ijazah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap
penghinaan. Tapi dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir
segalanya. Berkat
kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima pihak Toyota yang langsung
memberikan kontrak. Ini membawa Honda berniat mendirikan pabrik. Impiannya
untuk mendirikan pabrik mesinpun serasa kian dekat di pelupuk mata.

Tetapi malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak
memberikan dana kepada masyarakat. Bukan Honda kalau menghadapi kegagalan
lalu menyerah pasrah. Dia lalu nekad mengumpulkan modal dari sekelompok
orang untuk mendirikan pabrik.
Namun lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar,
bahkan hingga dua kali kejadian itu menimpanya.

Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan karyawannya.
Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal
Amerika Serikat, untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik.
Penderitaan sepertinya belum akan selesai. Tanpa diduga, gempa bumi meletus
enghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik ring pinstonnya
ke Toyota . Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya
gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan bensin. Di sini
kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat
menjual mobilnya akibat krisis moneter itu. Padahal dia ingin menjual mobil
itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.

Dalam keadaan terdesak, ia lalu kembali bermain-main dengan sepeda
pancalnya. Karena memang nafasnya selalu berbau rekayasa mesin, dia pun
memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka, sepeda motor– cikal
bakal lahirnya mobil Honda — itu diminati oleh para tetangga. Jadilah dia
memproduksi sepeda bermotor itu. Para tetangga dan kerabatnya
berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Lalu Honda
kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari
tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi raja jalanan dunia,
termasuk Indonesia.

Semasa hidup Honda selalu menyatakan, jangan dulu melihat keberhasilanya
dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang
dialaminya.

”ORANG MELIHAT KESUKSESAN SAYA HANYA SATU PERSEN.

TAPI, MEREKA TIDAK MELIHAT 99 PERSEN KEGAGALAN SAYA,” tuturnya. Ia
memberikan petuah, ”KETIKA ANDA MENGALAMI KEGAGALAN, MAKA SEGERALAH MULAI
KEMBALI BERMIMPI. DAN MIMPIKANLAH MIMPI BARU.”

Jelas kisah Honda ini merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih
seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal
dari keluarga miskin.

coffeetea
jupiter

admin

You are not authorized to see this part
Please, insert a valid App IDotherwise your plugin won't work.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *