1

FestivALL Tela Indonesia 2011

Indonesia adalah negara yang kaya raya , ijo royo-royo gemah ripah loh jinawi. Faktanya negara kita masih bergantung dengan bahan baku pangan impor. Seperti beras, gandum, dan sebagainya.  Indonesia, negeri yang tanahnya subur dan memiliki berbagai varian produk pangan, ternyata belum mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya dengan produk buatan sendiri alias produk lokal.

Sebaliknya Indonesia menggantungkan diri dengan produk luar seperti gandum, bahkan Indonesia mengimport berjuta juta ton gandum bernilai jutaan dolar. Otomatis jutaan dolar devisa negara terus tergerus karena besarnya import gandum dari luar negeri. Memang aneh tapi nyata, Indonesia yang kaya akan sumber pangan justru banyak menggantungkan bahan pangan dari luar negeri, dan produk pangan lokal seperti singkong dan sagu di anak tirikan dan dipandang sebelah mata.

Padahal singkong (manihot utilisima)  sebagai bahan baku pangan  lokal, aseli indonesia, memiliki kandungan gizi yang sangat baik untuk kesehatan. Singkong mengandung kalori, protein, lemak, hidrat arang, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B, vitamin C serta amilum, bahkan singkong juga mengandung karbohidrat kompleks, dan juga bebas glutein sehingga bagus bagi penderita diabetes dan authis.

Namun, singkong masih memiliki pandangan yang negatif atau kurang berkelas di mata masyarakat, seperti ndeso, kampungan, murahan, kere, dan sebagainya. bahkan dibeberapa daerah ada ejekan ‘TELO’ untuk orang yang dianggap kampungan. Kondisi tersebut menyebabkan ketahanan pangan Indonesia menjadi rapuh, padahal singkong merupakan potensi yang luar biasa untuk dijadikan sumber pangan kita. Dengan kondisi demikian, harus dibuktikan bahwa singkong dapat diolah menjadi pangan enak dan bergizi.

Saat ini pemerintah mulai giat mengkampanyekan ketahanan pangan nasional. Hal ini dibuktikan dengan adanya Badan Ketahanan Pangan Nasional. Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian berencana menggenjot divesifikasi sumber pangan masyarakat, salah satunya singkong. Ini sesuai dengan gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP). Bahkan dengan adanya gerakan diversifikasi tanaman pangan,agar tidak hanya terfokus pada komoditas beras telah berhasil meningkatkan produksi singkong nasional. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, tahun 2008 lalu produksi singkong nasional mencapai 21,75 juta ton dan meningkat menjadi 22,04 juta ton pada tahun 2009. Tingkat produktifitasnya juga terus meningkat dari 180,57 kuintal per hektare di tahun 2008 menjadi sekitar 189,86 kuintal per hektare tahun 2009.

Namun terlepas dari tingkat produksi yang ada, sebenarnya kendala yang paling besar adalah masih awamnya masyarkat terhadap produk pangan lokal mereka sendiri. Contoh yang paling besar adalah Yogyakarta sebagai daerah penghasil singkong No.1 di Pulau Jawa dengan produksi kurang lebih 800.000 ton per tahun, masyarakatnya masih menganggap singkong sebagai panganan murahan, kampungan. Masyarakat butuh diedukasi bahwa singkong bisa diolah menjadi bermacam-macam kreasi makanan yang enak, lezat, bergizi dan jauh dari kesan ndeso.

Berpegang dari kondisi diatas, diadakanlah FestivALL Tela Indonesia, yang Diorganisir oleh Cokro Tela Cake bekerjasama simply homy guest house festival dan didukung oleh Dinas Pariwisata, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, dan Dinas Perindustrian, perdagangan dan Koperasi, serta seluruh kompenen masyarakat yg nerkecimpung di dunia PerTelaan. FTI ini diadakan untuk mengingatkandan mengedukasi  masyarakat akan potensi pangan lokal khususnya di Yogyakarta dengan tema ‘Jogja kota Wisata’. Dan ingin memulai suatu gerakan moral ‘From Telo to Hero’.

FestivALL Tela ini akan berlangsung selama 2 hari yaitu pada tanggal 16 dan 17 Juli 2011. Sebelumnya juga diadakan kegiatan pra festival yaitu  berupa lomba ekpresikan Tela Cakemu (check diFB Cokro Tela Cake), pemilihan Duta Cokro, serta Lomba Photografi dan film dokumenter (16 & 17 Juli).

Rangkaian kegiatan hari pertama yaitu lomba mewarnai untuk TK dan PAUD menggambar untuk tingkat SD, dengan hiburan origami dan pertunjukan sulap. Selanjutnya ada lomba fashion anak dengan busana yg unik, dan lomba kreasi tela cakemu. Siang akan dilakukan tahapan dari Pemilihan Duta Cokro yakni parade Duta cokro dan photo session. Setelahnya akan diadakan Lomba Makan Tiwul Terbanyak dan Tercepat.

Dan yg paling heboh ada PERANG TELO (Cassava War), menggunakan Tela (singkong) yg sudah lumat untuk dilumurkan kepada ‘musuh’ dr pihak lain. Hal ini memiliki filosofi untuk menunjukkan perjuangan untuk lebih memperkenalkan produk olahan tela disaat Indonesia dibanjiri produk pangan yg harus impor. PERANG TELO akan dihadiri oleh komunitas2 yg ada di Yogyakarta, trmasuk diramaikan oleh bule2, supaya tela menjadi panganan dunia. Hari pertama ditutup dengan Gelar Budaya seni tari bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan yg menggelar Gelar Seni.


“Serunya Lempar²an Cake Coklat Sampai Puas”

Pada hari kedua adalah puncak acara kegiatan dari festivALL tela akan diadakan senam pagi massal dan Lomba Kreasi Olahan Tela yang akan memperebutkan hadiah Rojo koyo (kambing, kalkun dan bebek sebagai simbol kehidupan). Pada saat yang bersamaan dilakukan GREBEK TELO berupa arak-arakan prajurit (bregodo) dan gunungan telo, yang pada akhir acara akan diGrebek atau diperebutkan.

Masyarakat dapat turut serta berpartisipasi sebagai penjual dan pembeli di PAMERAN ‘DAGANG TELO’. Dimana pembeli dapat melakukan pembelian dgn harga mulai Rp 2,500 dan kelipatannya dengan menggunakan voucher. Pembeli berkesempatan mendapatkan Hadiah Sepeda Motor Titan dan Doorprize handphone, voucher menginap dan bingkisan menarik lainnya.

Kemudian dilakukan perhitungan untuk PEMECAHAN REKOR MURI utk Produk Olahan Tela terbanyak dan Franchise Guest House pertama di Indonesia.

Setelah acara MURI, diadakan DEKLARASI DAULAT PANGAN INDONESIA, dengan mengundang seluruh elemen masyarakat seperti Kepala Daerah, Young Leader, Young Entrepreneur, Organisasi dan Komunitas. Diharapkan dengan Deklarasi Daulat Pangan, tela menjadi simbol perjuangan ketahanan pangan dari Jogja untuk Indonesia.

Di akhir acara dilakukan pengumuman-pengumuman pemenang lomba dan doa bersama, atas syukur yg diberikan serta mengingatkan akan diadakannya FestivAll Tela Indonesia 2012, yg lebih menarik dan melibatkan lebih banyak komponen masyarakat. Viva la Tela.

admin

You are not authorized to see this part
Please, insert a valid App IDotherwise your plugin won't work.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *